Mei
19
Filed Under (Psikologi) by on 19 Mei 2011

Manfaat Mengenal Potensi Diri

Beberapa manfaat yang dapat diperoleh dengan memahami diri sendiri, antara lain:

  • Meningkatkan perhatian pada masalah-masalah yang realistis dan mengarahkan diri pada tindakan konkret
  • Mengembangkan kemampuan berpikir dan membebaskan pikiran
  • Menguatkan rasa tanggung jawab terhadap masalah guna mencari solusi terbaik
  • Mengasah pikiran agar tidak stagnan karena faktor kebiasaan
  • Mengasah kemampuan mencermati berbagai pendapat dan pemikiran orang lain

Teknik Mengenal Potensi Diri

Mengenal potensi diri sendiri dapat dilakukan antara lain:

  • Diri Sendiri, dengan melakukan introspeksi atas kelemahan dan kelebihan yang dirasakan dan mereview kembali keberhasilan dan kegagalan yang pernah terjadi.
  • Orang Lain, apabila usaha mengenal potensi yang dilakukan sendiri ternyata kurang berhasil karena faktor keterbatasan atau ketidakmampuan menggali potensi, maka diperlukan adanya kehadiran orang lain untuk memberikan penilaian. Dalam hal ini, menunjukkan betapa pentingnya umpan balik dari orang lain. Namun, umpan balik bukanlah harga mati yang harus diterima begitu saja karena pada dasarnya fungsi orang lain hanyalah sebagai cermin bagi diri sendiri.
  • Tes. Tes secara obyektif dan terstruktur dapat mengungkap semua potensi baik dari sisi kapasitas intelektual, kepribadian, minat, dan bakat. Salah satunya adalah tes psikologi yang dilakukan oleh psikolog.
Mar
23
Filed Under (Psikologi) by on 23 Maret 2011

Pengertian Potensi Diri

Manusia dilahirkan tidak sama dan setiap manusia memiliki ciri khas masing-masing, sehingga menjadikan manusia sebagai makhluk yang unik. Oleh karena itu, manusia perlu memanfaatkan dan mengaktualisasikan diri semaksimal mungkin dalam kehidupannya, melalui berbagai potensi yang ada pada dirinya.

Potensi diri adalah kemampuan dasar manusia yang siap untuk direalisasikan menjadi suatu kekuatan yang memiliki manfaat nyata dalam kehidupannya.

Potensi diri secara utuh adalah keseluruhan badan atau tubuh sebagai suatu sistem yang sempurna dan paling sempurnya apabila dibandingkan dengan makhluk lainnya. Sedangkan potensi yang telah ada pada diri manusia berada pada akal pikiran (otak), hati, dan indera.

Mengenal Potensi Diri

Setiap manusia adalah unik, namun sedikit sekali yang berusaha menggali potensi dirinya sendiri. Potensi yang dimiliki setiap manusia berbeda, hal ini terlihat pada perbedaan dalam minat, bakat, dan sikap. Sebagaimana slogan dari Socrates, yaitu “kenali diri Anda”, maka menjadikan diri kita dapat mengenali apa yang ada pada diri kita dengan panafsiran yang logis dan benar.

Oleh karena itu, seseorang diharapkan dapat mengenal dan mengoptimalkan potensi yang dimiliki guna mengetahui lebih mendalam mengenai bakat, minat, dan sikapnya. Bakat adalah suatu karakteristik unik individu yang membuatnya mampu melakukan suatu aktifitas maupun tugas secara mudah dan sukses. Minat adalah usaha dan kemauan untuk mempelajari serta mencari sesuatu. Sedangkan Sikap adalah hasil belajar dan praktik yang merupakan hasil perpaduan berbagai “trait dan ability”.

Seseorang tidak akan mampu mengubah keadaan diri sendiri selama tidak mengerti, tidak mengenali, dan tidak mencintai potensi dirinya sendiri. Untuk itu dibutuhkan keberanian dan kemauan untuk menggali potensi-potensi yang dimiliki sebagai langkah awal untuk mengenali semua potensi yang ada. (bersambung)

Des
14
Filed Under (Belajar) by on 14 Desember 2010

Teori kognitif berpijak pada tiga hal, ialah:

  1. Perantara sentral (central intermdiaries). Proses-proses pusat otak (central brain), misalnya ingatan atau ekspektasi merupakan integrator tingkah laku yang bertujuan. Pendapat mi berdasarkan pada inferensi tingkah laku yang tam­pak (diamati).
  2. Pertanyaan tentang apa yang dipelajari? Jawabannya adalah struk­tur kognitif, bahwa yang dipelajari adalah fakta, kita mengetahui di mana adanya, yang mengetahui alternate routes illustratis cognitive structure. Variabel tingkah laku nonhabitual adalah struktur kognitif sebagai bagian dan apa yang dipelajari.
  3. Pemahaman dalam pemecahan masalah. Pemecahan suatu masalah ialah dengan cara menyajikan pengalaman lampau dalam bentuk struktur perseptual yang mendasari terjadinya insight (pemahaman) di mana adanya pengertian mengenai hubungan-hubungan yang esensial. Preferensi yang digunakan adalah the contemporaty structuring of the problem.

Prinsip-prinsip Belajar Teori Kognitif

  1. Gambaran perseptual sesuai dengan masalah yang dipertunjukkan kepada siswa adalah kondisi belajar yang penting. Suatu masalah belajar yang terstruktur dan disajikan upaya gambaran-gambaran yang esensial terbuka terhadap inspeksi dari siswa.
  2. Organisasi pengetahuan harus merupakan sesuatu yang men­dasar bagi guru atau perencana pendidikan. Susunannya dari yang sederhana ke yang kompleks, dalam arti dari keseluruhan yang sederhana ke keseluruhan yang lebih kompleks. Masalah bagian keseluruhan adalah masalah organisasi, dan tidak bertahan dengan teori pola kompleksitas. Sesuai dengan pandangan mengenai pertumbuhan kognitif, maka organisasi pengetahuan tergantung pada tingkat perkembangan siswa.
  3. Belajar dengan pemahaman (understanding) adalah lebih perma­nen (menetap) dan lebih memungkinkan untuk ditransferkan, di­bandingkan dengan rote learning atau belajar dengan formula. Berbeda dengan teori Stimulus Respon, teori yang menitikberat­kan pada pentingnya kebermaknaan dalam belajar dan mengingat (retention).
  4. Umpan balik kognitif mempertunjukkan pengetahuan yang benar dan tepat dan mengoreksi kesalahan belajar. Siswa menerima atau menolak sesuatu berdasarkan konsekuensi dari apa yang telah diperbuatnya. Dalam hal ini kognitif setara dengan penguat­an (reinforcement) pada S-R theory, tetapi teori kognitif cen­derung menempatkan titik beratnya pada pengujian hipotesis melalui umpan balik.
  5. Penetapan tujuan (goal-setting) penting sebagai motivasi belajar. Keberhasilan dan kegagalan menjadi hal yang menentukan cara menetapkan tujuan untuk waktu yang akan datang.
  6. Berpikir devergen menuju ke ditemukannya pemecahan masalah atau ke terciptanya produk yang bernilai dan menyenangkan. Berbeda dengan berpikir konvergen yang menuju ke mendapat­kan jawaban-jawaban yang benar secara logika. Berpikir devergen menuntut dukungan (umpan balik) bagi upaya tentatif seseorang yang orisinal agar dia dapat mengamati dirinya sebagai kreatif potensial.
Nop
22
Filed Under (Belajar) by on 22 Nopember 2010

Teori Conectionisme ini mempunyai doktrin pokok, yakni hubungan antara stimulus dan respons, asosiasi-asosiasi dibuat antara kesan-kesan pengadaan dan dorongan-dorongan untuk berbuat. Ikatan-ikatan (Bond) atau koneksi-koneksi dapat diperkuat atau diperlemah serasi dengan banyaknya penggunaan dan pengaruh-pengaruh dari peng­gunaan itu.

Thorndike dengan S-R Bond Theory-nya menyusun hukum-hukum belajar sebagai berikut:

  1. Hukum pengaruh (The law of effect). Hubungan-hubungan diperkuat atau diperlemah tergantung pada kepuasan atau ketidaksenangan yang berkenaan dengan penggunaannya.
  2. Hukum latihan (The law exercise). Atau prinsip use and disuse. Apabila hubungan itu sering dilatih, maka ia akan menjadi kuat (Fixed).
  3. Hukum kesediaan/kesiapan (The law of readiness). Apabila suatu ikatan (Bond) siap untuk berbuat, perbuatan itu memberikan kepuasan, sebaliknya apabila tidak siap maka akan menimbulkan ketidakpuasan/ketidaksenangan/terganggu.

Hukum-hukum yang dikemukakan oleh Thorndike itu, lebih dilengkapi dengan prinsip-prinsip, sebagai berikut :

  1. Siswa harus mampu membuat berbagai jawaban terhadap stimulus (multiple responses).
  2. Belajar dibimbing/diarahkan ke suatu tingkatan yang penting melalui sikap siswa itu sendiri.
  3. Suatu jawaban yang telah dipelajari dengan baik dapat digunakan juga terhadap stimulus yang lain (bukan stimuli yang semula), yang oleh Thorndike disebut dengan “Perubahan Asosiatif” (associative shifting).
  4. Jawaban-jawaban terhadap situasi-situasi baru dapat dibuat apabila siswa melihat adanya analogi dengan situasi-situasi ter­dahulu.
  5. Siswa dapat mereaksi secara selektif terhadap faktor-faktor yang esensial di dalam situasi (prepotent element) itu.
Nop
18
Filed Under (Belajar) by on 18 Nopember 2010

Behaviorisme adalah suatu studi tentang kelakuan manusia. Timbulnya aliran ini disebabkan rasa tidak puas terhadap teori Psikologi Daya dan teori Mental State. Sebabnya adalah karena aliran-aliran terdahulunya hanya menekankan pada segi kesadaran saja.

Berkat pandangan dalam psikologi dan naturalism science maka timbullah aliran baru ini. Jiwa atau sensani atau imej tak dapat diterangkan melalui jiwa itu sendiri karena sesungguhnya jiwa itu adalah respons-respons psikologis. Aliran lama memandang badan adalah skunder, padahal sebenarnya justru menjadi titik pangkal bertolak. Natural science melihat semua realita sebagai gerakan-gerakan (movement), dan pandangan ini mempengaruhi tiimbulnya behaviorisme. Metode introspeksi sesungguhnya tidak tepat, sebab menimbulkan pandangan yang berbeda-beda terhadap objek luar. Karena itu harus dicari metode yang objektif dan ilmiah. Dari eksperimen menunjukkan, bahwa tikus dapat membedakan antara wana hijau dan warna merah dan dapat pula dilatih. Jadi kesadaran itu tiada gunanya.

Dalam behaviorisme, masalah matter (zat) menempati kedudukan yang utama. Dengan tingkah laku segala sesuatu tentang jiwa dapat diterangkan. Behaviorisme dapat menjelaskan kelakuan manusia secara seksama dan menyediakan program pendidikan yang efektif.

Dari uraian tersebut, ternyata konsepsi behaviorisme besar pengaruhnya terhadap masalah belajar. Belajar ditafsirkan sebagai latihan-latihan pembentukan hubungan antara stimulus dan respons.

Dengan memberikan rangsangan (stimulus), maka anak akan mereaksi dengan respons. Hubungan stimulus-respons ini akan menimbulkan kebiasaan-kebiasaan otomatis pada belajar. Jadi pada dasarnya kelakuan anak adalah terdiri atas respons-respons tertentu terhadap stimulus-stimulus tertentu. Dengan latihan-latihan maka hubungan-hubungan itu akan semakin menjadi kuat. Inilah yang disebut S-R Bond Theory. Kelakuan tadi akan dapat ditransferkan ke dalam situasi baru menurut hukum transfer tertentu pula.

Keberatan terhadap teori ini, adalah karena teori ini menekankan pada refleks dan otomatisasi dan melupakan kelakuan yang bertujuan (a pusposive behavior).